Pergerakan besar Bitcoin berikutnya bisa sangat bergantung pada pasar obligasi AS. Imbal hasil obligasi pemerintah melonjak ke level tertinggi dalam 24 tahun, sehingga obligasi negara kini makin menarik di mata investor dan menambah tekanan baru pada aset kripto.
Berdasarkan analisis pasar Bitunix untuk Oktober, imbal hasil obligasi US Treasury bertenor 10 tahun melesat di atas 5,35%. Harga Bitcoin turun di bawah US$82.000, sedangkan aksi jual menyebar ke pasar kripto secara luas.
Pihak exchange tersebut memperingatkan bahwa tekanan berkelanjutan dari imbal hasil obligasi yang tinggi dapat membuat pemulihan kripto secara konsisten jadi lebih sulit.
Mengapa Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS Mengancam Bitcoin
Obligasi US Treasury menawarkan pembayaran bunga rutin untuk investor dan dijamin oleh pemerintah. Saat imbal hasilnya naik, investor bisa memperoleh keuntungan lebih tinggi tanpa menghadapi risiko seperti pada aset kripto.
US LONG-TERM TREASURY YIELDS HIT A 24-YEAR HIGH
The 10-year yield briefly climbed to 5.35%, while the 30-year yield reached around 5.7% – levels not seen since 2002
The latest ISM services report added fresh pressure to the bond market, with the prices index rising to 74, its… pic.twitter.com/VHkzllH8dE
— BeInCrypto (@beincrypto) October 5, 2026
Bitcoin tidak memberikan bunga tetap. Karena itu, imbal hasil Treasury yang tinggi mendorong investor memindahkan modal ke obligasi pemerintah atau memilih menyimpan uang tunai.
Bitunix berpendapat bahwa perubahan preferensi investor ini menambah tekanan bagi Bitcoin, beserta aset spekulatif lainnya.
Risikonya meluas, bukan hanya di kripto. Imbal hasil yang lebih tinggi juga membuat biaya pinjaman naik dan bisa mengurangi minat pada saham teknologi. Bitunix melaporkan penurunan mingguan pada saham-saham terkait kripto, termasuk Strategy dan Circle.
namun, arah pergerakan imbal hasil obligasi tetap jadi penentu utama. Jika terjadi penurunan yang bertahan lama, minat investor terhadap risiko bisa meningkat dan membantu Bitcoin pulih kembali.
Kelemahan Pasar Kripto Tidak Hanya Menimpa Bitcoin
Pasar kripto secara keseluruhan mengalami kerugian lebih besar sepanjang 3–9 Oktober.
Bitcoin turun 3,80%, sedangkan Ethereum melemah 8,39% dan XRP jatuh 7,09%.
Lebih penting lagi, hanya sekitar 20% dari 300 aset kripto teratas yang dipantau Bitunix berhasil mencatatkan kenaikan. Median pengembalian mingguan ketiganya sebesar -5,18%.
Token decentralized finance juga terkena dampaknya. UNI dari Uniswap melemah 18,37%, sedangkan CAKE dari PancakeSwap turun 15,92%.
Meskipun demikian, aktivitas trading spekulatif masih berjalan.
SAND dari The Sandbox reli sebesar 57,71%, walau Bitunix tidak menemukan bukti adanya peningkatan fundamental proyek. Pihak exchange menyebut pergerakan harga SAND ini terutama disebabkan sentimen trading dan arus modal, meski tidak dapat memastikan faktor pendorong pastinya.
Di sisi lain, harga komoditas menempuh jalur berbeda. Harga emas naik kembali ke US$4.200, sementara harga minyak Brent melampaui US$100 per barel.

Harga Token SAND Reli Lebih dari 80% dalam Sebulan | Sumber: CoinGeckoLaporan Inflasi 14 Oktober Bisa Menentukan Arah Bitcoin
Ujian besar berikutnya akan terjadi pada 14 Oktober, ketika AS mengumumkan Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk bulan September.
Bitunix memperkirakan inflasi tahunan akan mencapai 3,6%, meningkat dari periode sebelumnya yang sebesar 3,4%.
Jika inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, maka peluang Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi semakin besar. Imbal hasil Treasury bisa naik lagi, sehingga tekanan jual pada Bitcoin dan aset berisiko lain bakal semakin besar.
Sebaliknya, jika inflasi melunak, tekanan pada imbal hasil obligasi bisa mereda dan mendorong pemulihan kripto.
Bagi trader, sinyal utama terletak pada bagaimana respons imbal hasil Treasury terhadap data CPI tersebut.

