Chief Financial Officer Robinhood, Shiv Verma, ingin investor ritel mendapatkan porsi yang lebih besar dalam penawaran umum perdana (IPO). Ia menyebut, pihak broker ini akan ikut dalam IPO Anthropic.
Namu, Robinhood tidak menentukan pembagian tersebut. Pihak penerbit bersama bank yang memutuskan. Porsi itu akan menentukan berapa banyak nasabah mendapat saham di harga penawaran, bukan membeli di pasar terbuka.
Mengapa Sekarang Perusahaan Menanyakan Seberapa Besar Ritel Bisa Masuk?
Anthropic mengatakan kepada investor bahwa pendapatan kuartal ketiga mencapai US$16,8 miliar, hampir 12 kali lipat dari tahun sebelumnya, demikian laporan Bloomberg. Dokumen amandemen mereka dengan Securities and Exchange Commission (SEC) juga mencatat komitmen pengeluaran sekitar US$895 miliar.
Robinhood bersaing dengan broker ritel lain untuk mendapatkan akses ke penawaran tersebut dan juga listing berikutnya.
Sementara itu, beberapa investor masih menunggu harga IPO Anthropic sebelum mendukung OpenAI yang menurunkan target pendanaan mereka sebesar US$10 miliar.
Disponsori
Disponsori
Secara historis, ritel hanya mendapat 1% hingga 5% dari IPO, tutur Verma di Bloomberg Businessweek Daily pada hari Senin. Sekarang, perusahaan bertanya-tanya apakah bisa menawarkan 10% atau 20%, tambahnya.
Dia menyebut porsi ritel sekitar 25% dari pasar saham untuk mendukung pembagian yang lebih besar.
SpaceX menginginkan 15% hingga 20% untuk investor ritel, ujar Verma. Namun, IPO Robinhood sendiri pada 2021 menetapkan sekitar 20% sampai 35% saham untuk nasabah, lapor Axios.
Verma menuturkan Robinhood menyalurkan permintaan nasabah ke penerbit dan bank, serta menyampaikan argumen untuk kepentingan ritel.
“Kami memastikan bahwa perusahaan tahu ritel itu ada di sini.”
ujar Shiv Verma, Chief Financial Officer Robinhood, di Bloomberg Businessweek Daily
Bisakah Permintaan Nasabah Mendapatkan Porsi IPO Anthropic yang Lebih Besar?
Robinhood tidak bisa menerima pesanan sebelum penawaran dibuka, dan periode tenang regulasi sebelum listing membatasi informasi yang bisa diungkapkan Verma.
Sebagai gantinya, Verma menyoroti aktivitas nasabah, dengan mengatakan bahwa orang mulai banyak melakukan deposit dan trading, yang ia anggap sebagai tanda positif.
Porsi yang lebih besar juga membawa risiko paparan. Saham SpaceX setelah IPO turun 20% dari puncaknya dalam sepekan pasca listing di bulan Juni.
Alhasil, jika penerbit terus menaikkan kuota ritel, broker bisa memiliki pengaruh yang sebelumnya hanya dikuasai oleh bank. Tapi, performa buruk setelah listing bisa saja melemahkan argumen tersebut.

