S&P 500 hanya berjarak 0,2% dari rekor tertingginya, tapi 41% saham S&P 500 tetap berada lebih dari 30% di bawah level tertingginya. Sangat jelas, hanya beberapa saham saja yang menopang seluruh pasar.
Sekitar 84% anggota indeks diperdagangkan setidaknya 10% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa, dan 17% bahkan turun lebih dari 50%. Tapi, indeks ini menimbang perusahaan berdasarkan nilai pasarnya, sehingga saham-saham terbesar sangat mendominasi pergerakannya.
Saham S&P 500 Mana yang Tak Ikut Reli?
Real estate memimpin, dengan 97% sahamnya berada minimal 10% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa, ujar The Kobeissi Letter.
Disponsori

Disponsori
Selanjutnya ada sektor material di 96%, utilitas di 94% dan consumer discretionary di 92%.
Di sisi lain, energi masih bertahan lebih baik di angka 62%, diikuti sektor kesehatan di 70% dan teknologi informasi di 72%.
Sementara itu, saham real estate mencapai rekor terendah terhadap S&P 500 pada pekan lalu.
BREAKING: 84% of S&P 500 stocks are now trading at least -10% below their all-time highs.
Real Estate leads the drawdown, with 97% of stocks down at least -10%, followed by Materials at 96%, Utilities at 94%, and Consumer Discretionary at 92%.
By comparison, Energy has held up… pic.twitter.com/x1l2BpFJ5K
— The Kobeissi Letter (@KobeissiLetter) October 11, 2026
Imbal hasil Treasury tenor panjang menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun pada 7 Oktober. Imbal hasil yang tinggi bisa menekan sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti real estate dan utilitas.
Berapa Lama Segelintir Nama Bisa Menopang Indeks?
Indeks ini ditutup di atas 7.800 untuk pertama kalinya pada 6 Oktober, lapor CNBC. Selain itu, Nvidia, Apple, dan Microsoft mewakili sekitar seperlima bobot S&P 500.
Kevin Gordon, kepala riset makro dan strategi di Schwab, mengatakan saham artificial intelligence (AI) kini yang menopang indeks ini. Namun, rata-rata anggota S&P 500 sudah turun 14% dari puncak ke lembah sejak awal Agustus, tuturnya.
Ex-AI index dari Goldman Sachs menghapus saham-saham yang diklasifikasikan bank itu sebagai penyokong AI. Indeks ini hanya naik 6,7% dalam enam bulan hingga 6 Oktober, sedangkan S&P 500 naik 18,3%.
Gordon mengungkapkan satu saja mega-cap capex yang meleset, atau pengurangan belanja modal untuk AI, bersama dengan pemangkasan anggaran, bisa mengganggu pendapatan perusahaan.
Dengan 17% anggota S&P 500 sudah turun lebih dari 50%, indeks ini sepertinya bisa kehilangan fondasi yang kuat jika pengeluaran untuk AI melemah. Laporan keuangan kuartal ketiga dari para pembelanja AI terbesar bisa jadi penentu apakah pondasi itu tetap kokoh atau tidak.

