Indeks Fear & Greed milik CNN turun ke angka 18 pada hari Jumat, masuk ke zona “Ketakutan Ekstrem,” setelah Nasdaq turun 4,5% selama sepekan. Angka ini tercatat sehari sebelum Black Monday berusia 39 tahun, dan seruan akan terjadinya crash semakin ramai di dunia maya.
Para trader kehilangan hampir US$52 juta dalam waktu 10 menit pada taruhan saham AI dan chip dengan leverage di hari Sabtu, saat Wall Street tutup.
Disponsori

Disponsori
Mengapa Saham AI Membawa Wall Street ke Ketakutan Ekstrem?
Alat pengukur ini mengukur sentimen investor dari 0 sampai 100 dengan tujuh sinyal pasar, masing-masing dibandingkan dengan riwayat terbaru, dan semua mendapat bobot yang sama. Tujuh indikator tersebut yaitu:
- Momentum pasar:apakah S&P 500 diperdagangkan di atas atau di bawah rata-rata selama 125 hari perdagangan terakhir.
- Kekuatan harga saham:berapa banyak saham di Bursa Saham New York yang mencetak harga tertinggi 52 minggu dibandingkan dengan harga terendah 52 minggu.
- Breadth harga saham:seberapa besar volume perdagangan yang mengalir ke saham naik dibandingkan saham turun, diukur dengan McClellan Volume Summation Index.
- Opsi put dan call:berapa banyak taruhan pada penurunan harga (put) yang dibeli trader dibandingkan dengan taruhan pada kenaikan harga (call), dihitung rata-rata lima hari.
- Volatilitas pasar:VIX, “indeks ketakutan” Wall Street, dibandingkan dengan rata-rata 50 harinya.
- Permintaan aset aman:bagaimana kinerja saham dibandingkan obligasi Treasury dalam 20 hari perdagangan terakhir.
- Permintaan obligasi junk:selisih yield tambahan yang diinginkan investor untuk memegang obligasi perusahaan berisiko dibandingkan obligasi dengan peringkat investasi yang lebih aman.

Indeks Fear & Greed pasar saham real-time | Sumber: Feargreedtracker.com
Indeks Philadelphia Semiconductor anjlok 11,4% selama sepekan, menjadi penurunan terburuk sejak April 2025, menurut Investing.com. Dow masih naik 0,7%.
CoreWeave, perusahaan cloud yang menyewakan daya komputasi AI, turun sekitar 25%. Obligasinya menyentuh titik terendah baru di tengah gelombang utang AI secara lebih luas.
Disponsori

Disponsori
Data inflasi yang tinggi juga kembali memunculkan spekulasi kenaikan suku bunga Federal Reserve yang akan meningkatkan biaya pinjaman.
“Data inflasi tinggi mengindikasikan suku bunga akan tetap tinggi lebih lama,” terang Michael ORourke dari Jones Trading .
Sektor teknologi informasi menyumbang sekitar 39% dari S&P 500, menurut CME. Holder produk indeks sangat terpapar risiko di sektor ini.
Apakah Black Monday Bisa Terulang Tanpa ‘Rem’ Pasar?
Pada 19 Oktober 1987, Dow anjlok 22,6% dalam satu hari, menurut Federal Reserve. Saat itu, belum ada rem perdagangan.
Sekarang, penurunan 7% atau 13% di S&P 500 akan menghentikan perdagangan selama 15 menit. Jika turun 20%, pasar akan ditutup seharian.
Rem ini tidak berlaku untuk perpetual futures, kontrak di exchange aset kripto yang mengikuti harga saham 24 jam. Saat harga turun, exchange akan menutup paksa posisi pinjaman, dan penjualan paksa ini bisa membuat harga makin turun.
Sekitar US$38 juta dari kerugian hari Sabtu menimpa trader yang bertaruh pada kenaikan harga.
Ini Crash atau Hanya Koreksi?
Short seller meraup sekitar US$32 miliar di saham chip hanya dalam tujuh hari, menurut data S3 Partners yang dikutip oleh Bloomberg.
“Kenaikan harga saham chip kemarin sangat agresif sehingga pada akhirnya pasti akan ada konsolidasi atau koreksi,” papar Dec Mullarkey dari SLC Management kepada Bloomberg.
Mark Newton dari Fundstrat menyarankan investor untuk membeli saham teknologi saat harganya turun sekaligus melakukan diversifikasi.
Pembukaan pasar hari Senin akan menunjukkan apakah aksi jual akhir pekan mencerminkan tekanan nyata atau hanya karena volume perdagangan tipis. Ujian sebenarnya adalah apakah kekhawatiran utang AI akan menyebar ke lebih banyak perusahaan yang memiliki utang besar.

