Biro Analisis Ekonomi Amerika Serikat (US) akan merilis estimasi awal Produk Domestik Bruto (GDP) kuartal kedua pada Kamis, dan para analis memperkirakan data menunjukkan pertumbuhan tahunan yang solid di angka 2,1%.
Pasar Bersiap Hadapi Data Pertumbuhan Ekonomi AS dan PCE di Tengah Ketidakpastian Geopolitik
Investor merasa cemas menjelang rilis data awal GDP Amerika Serikat untuk periode April-Juni pada hari Kamis, karena biasanya ini menjadi estimasi yang paling mempengaruhi pasar dari tiga laporan yang dirilis setiap kuartal.
Selain data utama pertumbuhan ekonomi, kalender domestik juga mencakup perilisan angka inflasi yang dilacak melalui Personal Consumption Expenditures (PCE), yaitu indikator inflasi pilihan The Fed.
Perilisan GDP mendatang tetap penting karena pelaku pasar akan mencari tanda-tanda dampak dari krisis yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Terkait inflasi, para pelaku pasar juga memperkirakan dampak tarif Trump dan meningkatnya volatilitas harga energi akan menjadi perhatian utama.
Disponsori
Disponsori
Rilis data ini menyusul pertemuan The Fed pada tanggal 28-29 Juli, di mana Komite memutuskan untuk tetap menahan Fed Funds Target Range (FFTR), seperti yang sudah banyak diprediksi.
Laporan ini juga mencakup GDP Price Index, yang lebih dikenal sebagai GDP deflator. Indeks ini mengukur inflasi untuk semua barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri, termasuk ekspor namun tidak termasuk impor. Data ini akan menjadi semakin penting di tengah konflik AS-Iran serta dampaknya terhadap harga minyak mentah.
Model GDPNow dari The Fed Atlanta, yang banyak diamati karena memperlihatkan perkiraan aktivitas ekonomi secara real-time, memprediksi pertumbuhan GDP kuartal dua sebesar 1,6% berdasar pembaruan tanggal 27 Juli (turun dari 1,7% pada 17 Juli).
Model GDPNow The Fed AtlantaKapan Rilis Data GDP dan Bagaimana Dampaknya pada Indeks Dolar AS?
Laporan GDP Amerika Serikat yang akan keluar pada pukul 13:30 GMT Kamis ini berpotensi menentukan arah Dolar AS (USD) jika ada kejutan besar, karena pasar hingga kini hampir sepenuhnya fokus pada perkembangan di Timur Tengah.
Selain data pertumbuhan utama, pasar akan memperhatikan pembaruan GDP Price Index dan PCE, karena kedua data ini sangat krusial dan dapat mengubah perkiraan terkait suku bunga The Fed serta arah Dolar AS.
Jika GDP naik lebih tinggi dari yang diperkirakan, atau setidaknya sesuai ekspektasi, maka narasi “keunggulan” ekonomi AS akan tetap kuat, sehingga memberi dukungan untuk pemulihan Dolar saat ini. Sementara itu, data inflasi pun diperkirakan akan sejalan dengan tren yang sudah terlihat pada rilis CPI awal bulan ini.
Gambaran teknikal untuk Indeks Dolar AS (DXY) sejauh ini masih cukup mendukung di tengah pergerakan harga yang konsolidatif. Indeks ini kini diperdagangkan di kisaran atas rentang beberapa bulan terakhir, jauh di atas batas 101,00.
Patut dicatat bahwa outlook positif ini diperkirakan tetap bertahan selama di atas SMA 200 hari di level sekitar 99,10. Kenaikan lebih lanjut dari sini perlu melewati resistance tahunan di 101,80 (24 Juni).
Level support di bawah muncul di kisaran terendah Juli di 100,35 (14 Juli), diikuti support dari SMA 55 hari dan 100 hari di 100,24 dan 99,68. Jika turun lebih jauh, tersedia support penting SMA 200 hari di 99,12, sebelum mencapai level terendah mingguan di 98,75 (29 Mei).
Indikator momentum mengarah bullish, dengan Relative Strength Index (RSI) berada di kisaran level 63 dan Average Directional Index (ADX) sedikit di atas 25, menunjukkan kekuatan aksi kenaikan harga baru-baru ini semakin bertambah.


