Senator Demokrat menemukan bahwa 84% dari lebih dari 800 wallet aset kripto terkait Iran yang terkena sanksi menggunakan USDT dari Tether secara eksklusif atau dominan. Pada hari yang sama, Tether menyampaikan telah membantu membekukan sekitar US$550 juta USDT terkait Iran sepanjang tahun ini.
USDT adalah stablecoin, sebuah token digital yang dipatok satu banding satu dengan dolar AS. Tether, perusahaan penerbitnya, dapat mengunci wallet yang memegang token tersebut kapan saja.
Apa Kata Senator Demokrat Tentang Tether dan Iran
Temuan ini berasal dari Senator Demokrat di Subkomite Permanen Senat untuk Investigasi (PSI), yang dipimpin oleh anggota senior Sen. Richard Blumenthal. The Wall Street Journal pertama kali memberitakan temuan ini.
A Senate investigation has found that Iran relies heavily on Tether's USDT stablecoin to bypass U.S. sanctions and reach the international financial system. Investigators say the token has become a major payment channel for the regime and has appeared in networks financing…
— Open Source Intel (@Osint613) September 28, 2026
Penyelidik menyebut USDT sebagai alat pembayaran utama untuk Teheran. Mereka juga menemukan USDT digunakan dalam jaringan pendanaan kelompok Iran, seperti Hezbollah.
Disponsori
Disponsori
Pada surat bulan Juni, Blumenthal menyatakan exchange Iran yang telah di sanksi tetap aktif memperdagangkan USDT dalam jumlah besar. Ia juga menanyakan apakah Tether pernah menolak permintaan pemblokiran wallet ilegal.
Tekanan ini sejalan dengan dorongan dari Departemen Keuangan AS. Pada Agustus, otoritas meluncurkan Operation Economic Outcast dan menyebut aset digital sebagai salah satu dari lima sektor Iran yang mendapat sanksi.
Bagaimana Tether Menjawab Temuan Senat Lewat Proses Pembekuan
Pernyataan resmi Tether merujuk pada dua aksi pembekuan. Pada bulan April, mereka membekukan US$344 juta di dua wallet. Office of Foreign Assets Control (OFAC), pengelola sanksi AS, kemudian mengaitkan keduanya dengan bank sentral Iran.
Pada bulan Juli, Tether membekukan lebih dari US$130 juta di empat wallet pada jaringan Tron, yang memiliki biaya transaksi rendah. Kala itu BeInCrypto melaporkan Tether kill switch bekerja hanya dalam hitungan jam setelah wallet terdaftar oleh OFAC.
“Blockchain publik memberikan otoritas tingkat transparansi terhadap pergerakan dana yang tidak pernah ada pada uang tunai, dan Tether bisa bertindak ketika menerima informasi kredibel dari penegak hukum,” bunyi kutipan dalam pernyataan tersebut, mengutip CEO Tether, Paolo Ardoino.
Perbedaan Angka Dari Senat dan Tether
Kedua angka tersebut mengukur hal yang berbeda. Laporan Senat soal 84% merujuk dompet setelah kena sanksi. Sementara angka US$550 juta dari Tether adalah jumlah dana yang mereka bekukan setelah otoritas memberikan daftar wallet.
Tether Has Supported Nearly $550 Million in Iran-Linked USD₮ Freezes as U.S. Expands Sanctions Campaign
Read more:https://t.co/L15BcxEjo7
— Tether (@tether) September 28, 2026
Perhitungan internal Tether juga menyisakan selisih. Dua aksi pembekuan yang mereka beberkan totalnya sekitar US$475 juta, sementara rincian sisa US$75 juta tidak dijelaskan secara detail dalam rilisnya.
Baik laporan Tether maupun hasil temuan Senat, seperti yang diberitakan, tidak menjelaskan berapa banyak USDT yang sebenarnya sempat bergerak melalui wallet tersebut sebelum pembekuan. Inilah data yang sudah lama diminta Blumenthal dari Tether.

