Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sempat menyentuh US$106,2 per barel pada hari Jumat, yang merupakan level intraday tertinggi sejak pertengahan September. Lonjakan ini terjadi setelah Iran mengklaim bahwa ranjau telah mengenai empat kapal tanker, sehari setelah pasukan AS menyatakan jalur Hormuz aman.
WTI kemudian turun ke US$104,1, dan Brent diperdagangkan di sekitar US$111,9, naik 9,4% dibandingkan sebulan sebelumnya. Untuk trader energi, faktor pergerakan harga yang lebih besar akan terjadi setelah pemilu paruh waktu AS pada 3 November. Dilaporkan, opsi serangan baru AS ke Iran juga dipertimbangkan pada periode tersebut.

Harga Minyak Naik Menjelang Pemilu Paruh Waktu AS. Sumber: TradingEconomics
Disponsori
Disponsori
Dua Front Memanas Jelang Pemilu di Amerika
Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran mengungkapkan tiga kapal tanker meledak di rute selatan pada hari Kamis. Teheran menganggap jalur itu terlarang.
Militer Iran juga melaporkan satu kapal lainnya rusak akibat ranjau di bagian timur jalur air tersebut. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan laporan serangan ranjau oleh Iran tidak benar serta mengatakan bahwa pasukan AS sudah membersihkan jalur utama. Pada hari Kamis, IRGC membantah pernyataan itu.
“Buktikan klaim bahwa Selat Hormuz telah dibersihkan dari ranjau dengan bukti independen, bukan sekadar pernyataan,” ujar juru bicara IRGC Hossein Mohebi. “Kenyataan tentang Selat Hormuz ditentukan di udara, di darat, dan di laut, bukan di media sosial atau ruang perang media Amerika.”
Ikuti kami di Xuntuk mendapatkan berita terkini secara langsung
Disponsori
Disponsori
???? CLAIM: Over recent days and weeks, Iranian-controlled media have reported Iranian claims that commercial vessels are hitting sea mines while transiting the Strait of Hormuz. These claims are FALSE.
✅ FACT: All internationally recognized primary transit routes through the… pic.twitter.com/SPobSv6ZTf
— U.S. Central Command (@CENTCOM) October 28, 2026
Front kedua datang dari Arab Saudi. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengaku melakukan enam serangan ke bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi, termasuk kilang Ras Tanura.
Klaim tersebut muncul beberapa hari setelah Menteri Pertahanan Saudi Khalid bin Salman menghadiri pertemuan di Teheran yang membahas “perdamaian dan keamanan di kawasan.”
Apa yang Bisa Diputuskan pada 3 November bagi Iran dan Minyak
Washington kini menjalankan pendekatan kekuatan dan diplomasi secara bersamaan. Kepala CENTCOM Laksamana Brad Cooper memaparkan opsi militer terhadap Iran kepada Trump pada hari Kamis, papar Wall Street Journal dalam laporannya.
Pemaparan tersebut menambah laporan sebelumnya tentang rencana serangan ke Iran pasca-pemilu paruh waktu. Namun, Trump masih bisa saja membatalkan aksi militer, menurut laporan tersebut.
Sementara itu, Wakil Presiden JD Vance kabarnya mengirim surat ke Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei tentang kerangka pembicaraan. Saat ditanya apakah dirinya yang menginstruksikan, Trump menegaskan “Tidak,” dan menghubungkan surat tersebut dengan bantuan pasokan medis.
Trader Polymarket masih memberikan peluang 83% gencatan senjata akan bertahan hingga 3 November. Peluang itu sempat turun sebentar dari di atas 90% ke sekitar 62% sebelum akhirnya naik kembali.

Peluang Polymarket atas Gencatan Senjata AS-Iran Bertahan hingga Pemilu Paruh Waktu. Sumber: Polymarket
Kontrak itu akan berakhir pada Hari Pemilu, sementara periode kemungkinan serangan baru dibuka setelahnya. Jadi, probabilitas 83% tersebut belum memberikan kepastian tentang arah harga minyak hingga pertengahan November.
Brent sudah naik mendekati level tertinggi tahunannya pekan lalu, menyentuh US$117,42 pada 23 Oktober. Dewan Emas Dunia sebelumnya berpendapat bahwa Kongres AS yang dikuasai Demokrat bisa membatasi pendanaan perang, sehingga menambah variabel lain pasca pemungutan suara.

