AS Jatuhkan Sanksi kepada Dua Warga Rusia yang Dituduh Ubah US$5,5 Juta Aset Kripto untuk Korea Utara

Ikhtisar:Departemen Keuangan AS memberikan sanksi kepada 11 orang terkait penipuan pekerja IT Korea Utara, sementara pelacakan menunjukkan salah satu warga Rusia berhubungan dengan setoran ke exchange arus utama.

Departemen Keuangan AS memberikan sanksi kepada 10 individu dan satu entitas pada 28 Oktober terkait skema pekerja TI Korea Utara. Dua di antara yang disebut adalah warga Rusia yang diduga mengonversi jutaan aset kripto untuk jaringan rezim tersebut.

Data on-chain dari Chainalysis menghubungkan salah satu warga Rusia tersebut ke beberapa exchange aset kripto arus utama, meskipun perusahaan itu tidak menyebut nama exchange-nya.

Menelusuri Uang dari Penggajian Jarak Jauh Pyongyang

OFAC (Office of Foreign Assets Control) dari Departemen Keuangan AS mengidentifikasi Vitold Viktorovich Obertas sebagai perantara asal Rusia dalam transaksi keuangan Korea Utara.

OFAC menyebut Obertas telah mengonversi hampir US$2 juta dalam bentuk aset kripto untuk pejabat Korea Utara sejak Januari 2025. Selain itu, ia juga diduga menangani setidaknya transaksi mata uang lain sebesar US$1,25 juta.

Warga Rusia lainnya, Ilya Boykov, diduga telah mengonversi sekitar US$3,5 juta dalam bentuk aset kripto untuk perusahaan Korea Utara bernama Alis sejak 2024.

Disponsori

Disponsori

Chainalysis menemukan bahwa wallet Obertas menerima dana dari Amnokgang, sebuah perusahaan pekerja TI yang telah disanksi oleh OFAC pada 12 Maret. Wallet yang sama juga melakukan deposit ke beberapa exchange arus utama maupun exchange yang terkena sanksi.

Grafik Chainalysis Reactor Menunjukkan Transfer dari Amnokgang ke Wallet Obertas | Sumber: Chainalysis

Chainalysis juga menelusuri dana dari Boykov ke Garantex, sebuah exchange di Rusia yang sudah terkena sanksi AS sejak April 2022. Pihak berwenang AS telah menyita domain web exchange ini pada Maret 2025.

Ikuti kami di X untuk memperoleh berita terbaru secara langsung

Ketika Tanggung Jawab Mutlak Bertemu Jejak Exchange

Departemen Keuangan menuturkan bahwa pelanggaran sanksi bisa berakibat pada hukuman perdata atau pidana untuk individu AS maupun asing. OFAC dapat memberikan hukuman perdata berdasarkan sistem tanggung jawab mutlak. Treasury juga menambahkan bahwa pihak non-AS tidak boleh membuat pihak AS melanggar sanksi, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Jaksa penuntut juga mengangkat kekhawatiran serupa dalam kasus Garantex. Departemen Kehakiman mengklaim pengelola exchange tersebut mendesain ulang platform agar pelaku bisnis AS secara tidak sadar tetap bertransaksi dengan mereka.

Departemen Keuangan juga memperingatkan bahwa institusi keuangan dan pihak lain dapat berisiko terkena eksposur sanksi atas transaksi tertentu yang melibatkan pihak yang masuk dalam daftar. Daftar baru OFAC memberikan sinyal risiko sanksi sekunder sesuai dengan regulasi Korea Utara.

Bagi exchange arus utama yang menerima deposit dari Obertas yang tidak disebut namanya, sekarang mereka berisiko jika melakukan transaksi lebih lanjut dengan dirinya. Chainalysis tidak menyebutkan kapan deposit tersebut terjadi.

Chainalysis menuturkan bahwa transfer yang melibatkan alamat-alamat yang telah ditetapkan sekarang akan memunculkan peringatan sanksi untuk para klien layanan screening mereka, tergantung pada pengaturan peringatan. Pihak AS yang memegang properti milik pihak yang masuk daftar wajib memblokir dan melaporkannya ke OFAC.

Pertanyaan yang belum terjawab adalah exchange arus utama mana saja yang menerima deposit dari Obertas dan apakah screening mereka mendeteksi hal itu.

Berlanggananlah ke kanal YouTube kami untuk menyaksikan para pemimpin dan jurnalis memberikan wawasan ahli

Disclaimer

Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.
Sebelumnya

Vitalik Buterin Sebut AI Cerdas tapi Tidak Terlalu Bijak

Selanjutnya

KuCoin Tinggalkan Rusia dan Belarus seiring Sanksi Kripto Uni Eropa Makin Ketat