Saham Webull turun 19,1% pada hari Rabu dan ditutup di US$5,89, setelah sebuah panel di DPR menyatakan bahwa data aplikasi trading tersebut “mungkin tetap terbuka” terhadap hukum intelijen Cina. Webull menyebut laporan itu tidak akurat.
Broker ini mengelola US$24,6 miliar untuk sekitar 28 juta pengguna di seluruh dunia. Pendiri Webull, Anquan Wang, adalah warga negara Cina yang menguasai 79,2% hak suara, berdasarkan laporan tahunan Webull.

Performa Saham Webull (BULL). Sumber: Yahoo FinancePerlindungan Akun Nasabah Webull
Webull merupakan anggota Securities Investor Protection Corporation (SIPC), yaitu dana industri yang akan membantu jika broker di AS mengalami kebangkrutan.
SIPC melindungi dana hingga US$500.000 per akun, termasuk US$250.000 dalam bentuk tunai, menurut halaman bantuan Webull. SIPC tidak menanggung kerugian akibat penurunan harga saham.
Disponsori

Disponsori
Saldo tunai pada program Cash Management Webull akan disalurkan ke bank mitra. Di bank tersebut, asuransi Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) melindungi dana hingga US$5 juta.
Laporan komite tersebut tidak melarang penggunaan aplikasi, tidak membekukan akun, atau memberikan denda pada perusahaan.
Risiko Menurut Panel DPR AS
Komite Khusus DPR AS untuk Cina mengatakan perangkat lunak, jalur data, dan rekayasa inti Webull bergantung pada sistem yang tunduk pada hukum Cina. Hukum itu dapat memaksa perusahaan menyerahkan data ke negara.
BREAKING: Webull $BULL just crashed over 20% after a House committee accused it of exposing US customer data to China pic.twitter.com/nA18j2dnCy
— Bull Theory (@BullTheoryio) October 7, 2026
Unit Webull di Cina, Hunan Weibu, mempekerjakan 863 orang atau 62% dari total karyawan, menurut laporan mereka. Panel tersebut menyebut Webull sebelumnya menyatakan tidak memiliki karyawan di Cina.
Kekhawatiran meningkat setelah Oktober 2025, saat Webull mulai langsung menyimpan dana nasabah, terang laporan tersebut.
“Dengan menggunakan penyedia teknologi di daratan Cina serta struktur kepemilikan yang tidak transparan dan terhubung ke Cina, Webull mengekspos datanya ke musuh utama kita,” tutur CNBC mengutip Rep. John Moolenaar, ketua komite tersebut.
Webull menyebut bahwa laporan tersebut memuat “banyak ketidakakuratan.” Mereka juga menambahkan bahwa data pelanggan di AS disimpan di AS, dengan akses yang hanya dikendalikan di negara tersebut.
Perusahaan juga mengungkapkan bahwa panel telah lebih dari 20 bulan tidak menghubungi mereka.
Anggota legislatif pertama kali menyoroti hubungan ini dalam surat Desember 2024. Laporan ini terbit beberapa minggu setelah pertemuan ramah pada bulan September antara Presiden Donald Trump dan pemimpin Cina, Xi Jinping.

