Sepanjang Oktober, Bitcoin berhasil mengecoh para bull dan bear. Harga Bitcoin sempat ambruk di bawah US$80.000 pekan lalu, lalu merangkak naik mendekati US$84.000 di pekan ini, kemudian anjlok lagi ke sekitar US$81.000.
Setiap kali terjadi bounce (pemulihan harga), pasar sempat optimis. Namun, setiap kali balik arah (reversal), terlihat jelas betapa minimnya rasa percaya diri pasar saat ini.
Dampak buruknya bahkan jauh lebih terasa pada pergerakan aset kripto di bawah Bitcoin. Dalam laporan Token Pulse periode 17–23 Oktober, crypto exchange Bitunix mencatat sekitar 80% dari 300 token terbesar yang dipantau mengalami penurunan nilai.
Median imbal hasil (return) mingguan token-token tersebut berada di angka −3,98%, jauh lebih dalam dibandingkan penurunan Bitcoin yang relatif tipis sebesar 0,71%. Cardano, NEAR, dan SUI mencatatkan penurunan lebih dari 5%, sementara token Starknet (STRK) merosot tajam hingga 39,2%.
Pemulihan pasar aset kripto secara keseluruhan menjadi semakin sulit untuk bertahan jika sebagian besar aset kripto masih terus berguguran.

Volatilitas Bitcoin antara US$80.000 dan US$84.000 selama OktoberMengapa Harga Bitcoin Terus Mengalami Reversal?
Ekspektasi terhadap suku bunga acuan AS terus berubah-ubah. Pada awal pekan, pernyataan terkait melemahnya pasar tenaga kerja sempat memicu harapan bahwa The Fed akan kembali memotong suku bunga. Bitcoin sempat melonjak karena investor mengantisipasi melimpahnya likuiditas pasar (cheaper money).
Namun, menurut analisis Bitunix, data ekonomi terbaru yang membaik kembali mematahkan ekspektasi penurunan suku bunga yang cepat, sehingga mendorong harga turun kembali.
Arus modal institusional juga tak kalah volatil.
ETF Bitcoin spot AS menerima dana masuk sebesar US$526,7 juta pada 19 Oktober dan US$524,8 juta pada 21 Oktober. Namun keesokan harinya, keluar dana sebesar US$635,6 juta.
Hal ini mencerminkan pergeseran arus bersih yang sangat drastis sebesar US$1,16 miliar hanya dalam dua sesi perdagangan berturut-turut.

Tekanan Makro pada Pasar Kripto
Tekanan pasar ini tidak hanya terjadi di industri kripto.
Pada ulasan kontrak saham mingguan Bitunix, saham Intel turun 10,52% dan Micron anjlok 8,05%. Pada 22 Oktober, Nasdaq turun 2,6% karena investor menyoroti biaya besar dari ledakan AI.
Bitcoin ikut melemah bersamaan dengan saham-saham teknologi akibat investor yang mengurangi tingkat risiko portofolio mereka (risk-off).
Kenaikan harga minyak kian memperumit situasi. Harga minyak mentah jenis Brent melonjak 6,8% sepanjang periode laporan Bitunix di tengah ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah. Lonjakan harga energi ini berpotensi menahan inflasi tetap tinggi, sehingga pemangkasan suku bunga makin sulit dibenarkan.
Bahkan, beberapa token yang mencatatkan kenaikan pun masih berjuang menahan harga. Token Lighter (LIT) sempat menguat 12,19% dalam tujuh hari berkat peningkatan aktivitas platform dan rencana pendaftaran lisensi derivatif di AS. Meski begitu, nilainya tetap merosot lebih dari 11% dalam 24 jam terakhir.
Spot weakened. Positioning told a more complicated story.
BTC and ETH faced ETF outflows while derivatives longs remained elevated, as TRX showed relative resilience.
⬇️ Dive into the full Blue-Chip Reporthttps://t.co/BF4oEvrwkC pic.twitter.com/otOFNV9Z0k
— Bitunix (@BitunixOfficial) October 23, 2026
Akankah Bitcoin Pulih Sebelum Oktober Berakhir?
Ujian besar berikutnya akan segera tiba.
The Fed dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pada 27–28 Oktober, dilanjutkan dengan rilis laporan inflasi PCE inti periode September pada 29 Oktober.
Sebagai catatan, inflasi PCE inti tahunan berada di angka 3,0% pada bulan Agustus, masih di atas target The Fed sebesar 2%.
Jika data inflasi melandai atau The Fed memberikan sinyal yang menenangkan pasar, Bitcoin berpeluang kembali menguji level US$84.000–US$85.000
Sebaliknya, jika inflasi tetap tinggi, penarikan dana ETF berlanjut, atau terjadi aksi jual susulan pada saham teknologi, harga Bitcoin diprediksi bisa kembali tertekan ke level US$80.000.
Untuk saat ini, pemulihan yang berulang kali terjadi menunjukkan bahwa para pembeli masih bersedia masuk di kisaran harga US$80.000. Namun, pembalikan arah yang tajam mengindikasikan bahwa pembeli belum sepenuhnya memegang kendali pasar.

