Perlombaan Stablecoin Bisa Membuat Pinjaman Bank Jadi Lebih Mahal

Ikhtisar:Bank mulai masuk ke pasar stablecoin. Memindahkan dana dari deposit bisa melemahkan basis pinjaman mereka dan membuat biaya pinjaman menjadi lebih mahal.

Stablecoin Bisa Membuat Pinjaman Jadi Lebih Mahal. Itulah peringatan dari kepala Bank for International Settlements, Pablo Hernández de Cos, pada 28 Agustus, ketika bank semakin berkembang ke ranah uang digital.

Aset digital ini mulai menjadi kelas aset yang cukup merepotkan bagi bank. Karena stablecoin hampir menghancurkan model bisnis mereka dan memaksa mereka untuk menghadirkan produk-produk baru.

Pasar stablecoin saat ini memiliki sekitar US$304 miliar, termasuk sekitar US$183 miliar dalam Tether dan US$74 miliar dalam USDC. Peneliti Federal Reserve menggambarkan token-token ini sebagai pesaing potensial untuk rekening transaksi tradisional.

Arthur Firstov, Chief Business Officer di Mercuryo, menjelaskan kepada BeInCrypto mengapa hal itu penting.

“Stablecoin sudah tidak lagi menjadi produk kripto, melainkan menjadi produk pembayaran. Selama bertahun-tahun, bank bisa menepisnya sebagai ‘infrastruktur kripto’ – itu jauh lebih sulit dilakukan ketika stablecoin digunakan untuk pembayaran, treasury, penyelesaian lintas negara, kartu, pembayaran merchant, dan settlement institusi. Pada titik itu, stablecoin secara langsung bersaing dengan salah satu produk paling berharga milik bank: rekening transaksi.”

Bank sudah mulai merespons. Sebuah survei Federal Reserve pada September 2025 menemukan sekitar setengah responden memprioritaskan pertumbuhan di setidaknya satu bidang stablecoin atau aset digital selama tiga tahun ke depan.

Apa yang Terjadi dengan Dana Simpanan?

J.P. Morgan memiliki JPM Coin yang mewakili simpanan bank di atas blockchain. Sementara Société Générale-FORGEs CoinVertible adalah stablecoin yang diatur MiCA dan didukung agunan terpisah. Teknologi serupa menawarkan janji yang berbeda pada nasabah.

Nitin Gaur, Head of Institutions di Nethermind, menjelaskan perbedaannya.

“Pertanyaan menariknya bukan lagi pada bisa atau tidaknya bank menerbitkan [token], tapi pada apa yang sebenarnya diterbitkan bank. Tokenized deposit dan stablecoin yang diterbitkan bank adalah dua bentuk kewajiban yang berbeda, dengan karakter hukum berbeda, perlakuan modal berbeda, status asuransi berbeda dan sifat settlement yang berbeda juga.”

Tokenized deposit tetap menjadi sumber pendanaan bank. Berdasarkan US GENIUS Act, stablecoin pembayaran wajib didukung cadangan yang eligible secara penuh satu-banding-satu, seperti kas atau surat utang Treasury jangka pendek. Treasury mengusulkan aturan implementasi pada 17 Agustus.

Gaur memaparkan apa artinya bagi neraca keuangan bank.

“Stablecoin yang diterbitkan melalui jalur GENIUS bukanlah simpanan bank. Stablecoin adalah instrumen pembayaran yang didukung oleh cadangan terpisah yang tidak boleh dipinjamkan oleh penerbitnya. Ketika bendahara memindahkan seratus juta dari rekening giro ke coin milik bank itu sendiri, bank tersebut telah mengubah sumber pendanaan menjadi kumpulan cadangan yang tidak bisa dipinjamkan,” ujar Gaur.

Dampak yang lebih luas bergantung pada kemana akhirnya cadangan tersebut ditempatkan. Uang yang kembali disimpan di bank tetap bisa jadi sumber pendanaan, meski risikonya akan lebih terkonsentrasi dan bisa keluar lebih cepat.

Adrian Wall, Managing Director dari Digital Sovereignty Alliance, menyoroti risiko yang ada.

“Jika adopsi stablecoin pada akhirnya menggeser sumber pendanaan dari simpanan bank tanpa mendaur ulang dana tersebut ke sistem perbankan, bank bisa menghadapi biaya pendanaan yang lebih tinggi dan kemungkinan kapasitas kredit yang makin menurun.”

Pembayaran di Luar Jam Kerja Bank

Nasabah sudah memiliki alasan untuk menggunakan produk-produk ini. Pada Juli, Citi melaporkan pembayaran dolar dari London ke Thailand saat libur nasional AS, menggunakan layanan tokenized deposit miliknya beserta sistem kliring 24 jam tanpa henti.

Western Union merilis USDPT pada Mei, di mana Anchorage Digital Bank menerbitkan stablecoin tersebut di Solana.

Model-model stablecoin ini berkembang dengan skala berbeda. J.P. Morgan melaporkan sekitar US$7 miliar aktivitas harian di seluruh produk Kinexys. CoinVertible melaporkan €156,6 juta token euro dan US$12,55 juta token dolar beredar pada 31 Agustus.

Angka-angka tersebut mengukur volume transaksi dan jumlah beredar masing-masing, sehingga belum bisa memastikan model mana yang unggul.

37 Bank, Satu Koin

Seiring makin banyak bank yang bergabung, koin terpisah malah bisa membuat dana terpecah ke berbagai pool kecil; pengguna juga harus menukar token bank satu ke bank lainnya. Teknologi yang saling terkoneksi tidak selalu menjamin konversi 1 banding 1 di tengah tekanan pasar.

Qivalis di Eropa telah mengumpulkan 37 bank dari 15 negara yang siap meluncurkan stablecoin euro bersama. Mereka menargetkan peluncuran pada paruh kedua tahun 2026, tergantung izin regulator.

Ernesto Olmedo Pereira, Head of Strategy & DeFi di Qivalis, menjelaskan bahwa berbagi mata uang adalah keputusan yang disengaja.

“Jika tiap bank menerbitkan token sendiri, yang terjadi hanyalah puluhan pool yang tipis dan tidak kompatibel, bukannya satu instrumen euro yang dalam dan likuid. Qivalis, sebuah perusahaan independen yang didukung oleh 37 bank, ada karena bank-bank ini memilih untuk membangun satu infrastruktur euro yang bersama dan interoperable ketimbang bersaing melalui 37 infrastruktur yang terpisah.”

European payments have made real progress. But global reach is still missing.

Qivalis: 37 banks across 15 countries unifying on a single on-chain euro payments rail. Near-instant. Cross-border. No detours.

DNB authorisation in progress. Launching H2 2026.#Qivalis… pic.twitter.com/NMUiZzGWkS

— qivalis (@qivaliseu) July 16, 2026

Bank nantinya bisa bersaing lewat layanan di sekitar uang tersebut, seperti valuta asing dan pinjaman korporasi. Koin bersama ini akan membawa pembayaran di antara mereka.

Peluncuran Qivalis akan menjadi uji coba apakah kerja sama ini bisa menarik bisnis reguler di luar bank-bank pendirinya.

Nasabah membutuhkan uang yang bisa mereka pakai di seluruh hubungan perbankan. Bank harus membuktikan bahwa layanan yang dijual di sekitar pembayaran itu memang layak dengan biaya dana pinjaman yang mungkin lebih tinggi.

Disclaimer

Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.
Sebelumnya

Treasury Kripto Wall Street Mulai Beli Bitcoin dan Ethereum Lagi. Mengapa?

Selanjutnya

Brasil Hentikan Kampanye Kandidat Pro-Bitcoin Renan Santos, Bekukan Dana R$3,3 Juta