Indeks acuan CSI 300 di Cina memasuki bear market pada hari Kamis setelah turun selama 10 minggu berturut-turut, menurut data LSEG yang dikutip oleh CNBC.
Bloomberg mengaitkan penurunan ini dengan harapan stimulus yang mulai memudar, pendapatan yang lemah, dan kekhawatiran terhadap perdagangan artificial intelligence (AI) global. Sementara itu, pasar saham di Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan juga mengalami penurunan.
Disponsori
Disponsori
Saham Cina Masuk Bear Market
CSI 300 berada di level 4.060,19 saat jeda pagi hari Kamis, sekitar 20% di bawah puncaknya pada bulan Juni. Indeks ini juga turun 13,94% dibandingkan level pada 1 Januari.

Performa CSI 300 | Sumber: Google Finance
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara real-time
Meskipun terjadi penurunan, para pembuat kebijakan belum memberikan dukungan baru sejauh ini. Pada hari Selasa, Cina mempertahankan one-year loan prime rate (LPR) di 3,0% dan five-year LPR di 3,5%. Kedua suku bunga ini tidak berubah selama 17 bulan berturut-turut.
Analis di Maybank menyebut pertumbuhan utama yang stabil membuat stimulus fiskal dan moneter baru menjadi kurang mendesak, seperti dilaporkan Reuters. Pertumbuhan tersebut mencapai 4,5% pada kuartal ketiga, mengalahkan perkiraan. BeInCrypto sebelumnya juga melaporkan bahwa tren penurunan berlanjut meskipun data ekonomi menguat.
Pembelian yang didukung negara juga lebih kecil dibandingkan dengan aksi jual oleh pemerintah sebelumnya. Central Huijin memimpin upaya stabilisasi pasar di Cina. Mereka mengumpulkan US$231 miliar melalui penjualan exchange-traded fund (ETF) pada semester pertama tahun ini.
Disponsori
Disponsori
Sejak mulai kembali membeli pada bulan Juli, Central Huijin hanya berinvestasi sekitar US$43 miliar, perkiraan analis Bloomberg Intelligence. Itu berarti masih tersisa sekitar US$188 miliar. namun, para analis memperingatkan bahwa pembelian oleh negara saja mungkin tidak cukup untuk memulihkan pasar secara berkelanjutan.
Tekanan Jual Meluas dari Seoul ke Taipei
Tekanan pasar juga meluas ke luar daratan pada hari Kamis. KOSPI Korea Selatan turun 2,56% hingga tengah hari ke 5.588,94, dari penutupan sebelumnya di 5.735,66.
Nikkei 225 Jepang diperdagangkan 1,65% lebih rendah dari penutupan hari Rabu pada awal sore, ke level 63.554,76. Begitu juga, TAIEX Taiwan merosot 1,15% dari penutupan sebelumnya menjadi 46.346,92 pada perdagangan akhir pagi.
Hong Kong juga mengalami penurunan. Indeks perusahaan besar Cina yang listing di kota tersebut turun hingga 2,9% pada hari Kamis.
Indeks Hang Seng Tech sudah mencapai level terendah dua tahun pada hari Selasa saat saham AI hardware turun. Pada hari Rabu, Tencent merosot di bawah HK$400, dan CATL turun karena pertumbuhan laba yang lemah dan persaingan yang ketat.
Sovereign Fund Kembali Masuk ke Cina
Namun, beberapa investor jangka panjang justru menambah eksposur mereka ke Cina tahun ini. Sovereign wealth fund mengucurkan US$14,2 miliar ke Cina daratan dan Hong Kong hingga bulan September. Data tersebut diperoleh dari Global SWF dan dibagikan kepada CNBC.
Total itu hampir tiga kali lipat dari US$4,9 miliar yang diinvestasikan pada tahun 2025. Public Investment Fund Arab Saudi memimpin dengan US$6 miliar. Secara keseluruhan, 4 sovereign fund dari Teluk menyumbang hampir 70% dari dana masuk ini.
Transaksi tersebut termasuk kepemilikan minoritas di Luckin Coffee dan penjualan saham Alibaba senilai US$10,2 miliar. Andrew Wang, pimpinan investasi konsumer di divisi private equity Mubadala, menyoroti valuasi pasar Cina.
“Valuasi saat ini lebih rendah dibanding beberapa tahun terakhir. Saya rasa ini akan jadi momen yang bagus bagi investor di Cina,” ujar Andrew Wang.
Meski demikian, proporsi Cina tetap kecil sebagai tujuan investasi sovereign fund. Amerika Serikat menarik dana investasi sovereign sebesar US$132,4 miliar pada periode sembilan bulan yang sama, menurut Global SWF. Eropa dan Inggris menyerap US$44,6 miliar.

